Jumat, 18 September 2020

Mengenalmu Menumbuhkan Beribu Rasa Simpati Dihatiku

 

Special Moment of a Teacher as a Teacher buat saya adalah ketika saya mengajar di kelas II D TP.  2013 – 2014. Saya menjadi Guru Kelas untuk Peserta Didik yang kinestetik, linguistik, dan logic matematika. Kelas yang sangat heboh. Walaupun zaman itu belum ada kelas Multiple Intelligence, saya dapat memprediksi dari gaya belajar mereka dengan literatur Multiple Intelligence yang ada sekarang.

Anak-anak yang hebat, itulah istilah saya buat mereka. Mereka cepat menyerap pelajaran dengan cepat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Terkadang mereka usil dengan temannya yang lain. Disinilah tutor sebaya saya gunakan. Anak-anak yang cerdas dan kinestetik ini, saya minta mereka mendengar perkalian temannya. Mereka mengecek hapalan perkalian temannya. Tidak berjalan-jalan lagi.

Kondisi kelas sungguh kondusif. Saya dan Pak Syamsir Muhammad menerapkan disiplin tingkat tinggi untuk anak-anak. Tujuannya agar kemampuan mereka terasah dengan baik, dapat mengendalikan mereka sesuai koridor peraturan yang berlaku.

Hari-hari penuh warna bagi saya dan Pak Syamsir, mengawasi dan menemani anak-anak sholat dhuha, zuhur, ashar, dan makan siang. Laporan dari guru lainnya juga berkurang. Guru lainnya kaget karena suasana belajar kondusif,  padahal kelas II D ini isinya gabungan dari peserta didik kelas I yang luar biasa aktifnya di kelas yang membuat orang tuanya juga menyerah dengan perangai anak-anaknya.

Suasana ini berubah dengan masuknya seorang peserta didik baru pindahan dari Balik Papan. Masuk menjelang 2 Minggu sebelum UH 2 Semester 1. Bukan masalah UH 2 nya, tapi anak ini tidak pandai membaca!.

Mau tidak mau anak ini diterima di kelas II D. Semua warga kelas II D dan guru bidang studi protes. Hal yang sangat tidak wajar dan  aneh, anak kelas II tidak pandai baca. Dalam benak saya, apa saja yang sudah dilakukan gurunya di sana sampai anak ini tidak mengenal huruf sama sekali. Di mana moral dan tanggung jawab mereka, sampai anak yang tidak tahu huruf saja bisa belajar di sana sampai kelas II.

Semua pertanyaan dari saya dan guru bidang studi, saya sampaikan kepada kepala sekolah. Mengapa anak yang tidak pandai membaca ini diterima di kelas II?. Jawaban kepala sekolah waktu itu sungguh menyesakkan dada. Nilai di rapornya bagus dan orang tuanya sudah mentransfer penuh uang sekolah dan pembangunan. Miris rasanya mendengarkan itu. Anak tidak di tes masuk akhirnya guru kelas dan guru bidang studi yang menanggung akibatnya.

Diskusi bersama patner saya, Pak Syamsir dan guru bidang studi lainnya. Akhirnya diputuskan bahwa ketika Esa Dirga itu belajar dengan guru lainnya, Dirga, saya ambil untuk belajar di pustaka. Pak Syamsir bertugas mengajarinya iqro’. Saya dan Pak Syamsir harus menelan kepahitan berdua ketika beberapa guru bidang studi  menolak memasukkan nama Dirga didaftar nilainya karena tidak mau rata-rata nilainya hancur karena Dirga.

Motivasi ingin membuktikan bahwa keberhasilan saya sebagai seorang guru berada di tangan Dirga. Setiap hari saya bimbing Dirga membaca dan mendikte menulis. Istirahat saya hanya di jam istirahat saja. Tak saya hiraukan kehamilan yang sudah menginjak usia 6 bulan. Alhamdulillah anak di dalam kandungan saya tenang-tenang saja ketika saya mengajar Dirga. Saya hanya ingin Dirga pandai membaca dan menulis dengan baik. Nilai akhir penilaian guru hanya sebuah kertas tanpa arti jika kita memilah-milah anak karena takut nilai akhir tahun rendah dan berpengaruh pada kenaikan golongan.

Saya bersyukur anak-anak lainnya terus menunjukkan kemampuan yang meningkat. Saya selalu memotivasi mereka untuk memberikan nilai terbaik di setiap bidang studi agar rata-rata kelas tetap tinggi walaupun nilai Dirga jatuh. Beberapa anak yang memiliki kemampuan belajar yang tinggi, setelah mereka selesai mengerjakan latihan bergantian mendengarkan Dirga membaca. Saya terharu melihat empati mereka kepada temannya. Bahkan ketika saya marah menyuruh Dirga untuk tetap fokus menulis yang saya bacakan. Anak yang super aktif malahan menegur Dirga “Dirga, menulislah antum. Kasihan lihat bu Isra, tidak ada istirahat mengajari antum terus”.

Alhamdulillah 1 bulan kemudian Dirga sudah mulai bisa membaca dan menulis. Walupun UH2 saya hancur. Dirga memberikan nilai yang cukup di Ujian Akhir Semester I. Remedial terus setelah UAS. Bagi saya untuk anak yang baru pandai membaca, nilai yang diberikannya untuk saya sudah cukup baik. Nilai rata-rata kelas saya tidak anjlok karena anak didik saya yang lainnya memberikan nilai terbaik mereka untuk saya. Merekalah penyelamat saya.

Kejadian ini memberikan banyak hikmah untuk saya. Jika kita sabar dan ikhlas mengajar dan memberikan ilmu kita kepada anak didik, mereka akan memberikan hasil yang terbaik untuk kita. Menanamkan keyakinan kepada seluruh anak didik bahwa mereka semua adalah anak-anak hebat yang mempunyai kemampuan yang sama dengan teman-temannya yang lain, akan membangkitkan semangat mereka untuk menjadi yang terbaik.

Empati anak didik ditentukan oleh sikap kita sendiri. Jika kita melakukan perbuatan yang menunjukan simpati dan empati kepada orang lain, mereka juga akan melakukannya. Satu sosok Dirga, membuat mereka ikhlas bergantian mengajari temannya membaca dan memeriksa latihan menulis Dirga. Itulah hakikat pendidikan sebenarnya. 

 


10 komentar:

  1. Salam SRB, ditunggu pengalamn berikutnya. Semoga sll sukses Bu..

    BalasHapus
  2. Masya Allah salut sekali dgn ibu. Sangat terharu membacanya ibu. Ditunggu kisah kisah inspiratif lainnya buk👍💪

    BalasHapus
  3. Lanjut Buk...Mantap 👍
    Ntr tambah donk kumpulan video pembelajarannya di sini aj masukin..

    BalasHapus
  4. Salut...buat Bu Isra yg penuh semangat dalam mencari ilmu, semangatnya pantang menyerah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe saya biasa-biasa ajanya bu 😊 Karena menyadari ilmu yang dimiliki masih kurang makanya belajar lagi

      Hapus

RPP dan Latihan Soal Tema 8 Subtema 1 untuk Kelas 3 SD

RPP Tema 8 Subtema 1 Kelas 3 https://drive.google.com/file/d/14Lk-ae_-SmYgJQw0zAF3hy28xxFYk-HM/view?usp=sharing Latihan Soal Sudut dan Jenis...